Jumat, 10 Agustus 2012

PENYAKIT SEPTICAEMIA EPIZOOTICAE (SE)


Sinonim                : Penyakit Ngorok, haemorrhagic, septicaemia
Septicaemia epizooticae (SE) adalah penyakit menular yang bersifat akut yang disebabkan oleh kuman Pasteurella multocida, terutama menyerang kerbau dan sapi, ditandai dengan adanya suara ngorok dan bronchopneumonia akut.
1.       Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh kuman  P. multocida  tipe  B:2 (6:B), atau tipe E:2, bersifat Gram negatip, berbentuk bipolar dengan ukuran 0,3 – 0,5 :m.
2.       Gejala Klinis
a.       Masa inkubasi sekitar 10-14 hari.
b.      Hewan penderita nampak depresi, lesu dan malas bergerak.
c.       Demam tinggi dapat sampai 42°C.
d.      Terjadi gangguan respirasi, terdengar suara ngorok.
e.      Hipersalivasi (mulut berbuih).
f.        Ada pembengkakan/edema di daerah leher sampai daerah dada bagian bawah.
g.       Kematian dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam sejak munculnya gejala klinis.

3.       Perubahan Patologi Anatomi
a.       Terjadi perdarahan subkutan dan subserosa pada rongga dan perut. Perdarahan petekie sampai ekimose dijumpai pada jantung, hati dan limpa.
b.      Paru-paru menalami bronchopneumonia  yang ditandai oleh adanya kongesti, edema dan hepatisasasi.
c.       Dalam rongga dada sering ditemukan cairan (hidrotaraks) dan endapan fibrin.
d.      Pada saluran pencernaan terlihat kongesti atau perdarahan.

4.       Epidemiologi
a.       Angka morbiditas dari penyakit ini dapat mencapai 60% dengan tingkat kematian penderita (case fatality rate) sampai 100%.
b.      Kerbau/sapi umur 6 sampai 18 bulan sangat peka terhadap penyakit ini.
c.       Kasus biasanya terjadi pada akhir musim kemarau atau awal musim hujan.
d.      Hewan yang sembuh dari penyakit dapat bertindak sebagai karier.
e.      Kasus muncul akibat adanya stres dari hewan karier.
f.        Penularan utama terjadi secara oral melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh P. multocida.

5.       Diagnosa
a.       Berdasarkan gejala klinis, patologi anatomi dan epidemiologi.
b.      Walaupun demikian masih diperlukan konfirmasi laboratorium berupa isolasi dan identifikasi kuman penyebab, dan melakukan uji serologi serta pemeriksaan histopatologi.

6.       Diagnosa Banding
a.       Contagious bovine pleuropenumonia (CBPP)
b.      Penyakit jembrana (khusus sapi bali) pada stadium awal
c.       Leptospirosis akut
d.      Anthrax

7.       Pengobatan
Pemberian antibiotika pada saat awal kejadian penyakit, sering membantu proses penyembuhan.

8.       Tindakan Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit bisa dicegah / dikendalikan dengan melakukan vaksinasi secara teratur menjelang musim hujan.
9.       Material untuk pemeriksaan laboratorium
a.       Untuk isolasi kuman diperlukan darah jantung.  Di samping itu dapat juga dikirim; cairan dari rongga dada, paru-paru, limpa atau hati dalam medium transpor.
b.      Untuk pemerinksaan histopatologi dapat  dikirim organ yang mengalami perubahan dalam container yang berisi formalin 10%.


Gejala Klinis Penting
Spesimen yang
Harus diambil

Jenis Pengawet
Tujuan
Pemeriksaan
-      Lesu, hipersalivasi
-      Keluar eksudat bening dari hidung, odema pada pangkal leher sampai ke dada
-      Terdengar suara ngorok karena kesulitan bernapas
-      Pneumonia
-      Preparat ulas darah
-      Darah segar saat demam
-      Limpa, limfoglandula, eksudat, cairan oedema, sumsum tulang bila bangkai telah membusuk
-      Jantung, hati, limpa, paru-paru
-      Fiksasi methanol
-      Dalam antikoagulans
-      Dalam media transpor
-       Mikroskopis
-       Kultur



Istilah:
-          Epidemiologi (epizootiologi) adalah ilmu yang mempelajari frekuensi dan distribusi suatu penyakit serta factor-faktor yang mempengaruhinya di dalam suatu populasi.
-          Karier adalah hewan yang membawa agen penyakit tetapi ia sendiri tidak memperlihatkan gejala klinis suatu penyakit.
-          Etiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebab penyakit baik  secara langsung maupun tidak langsung.
-          Perdarahan adalah keluarnya darah dari dalam pembuluh darah.

Tindakan pencegahan dalam arti luas berarti penolakan suatu penyakit yang belum pernah dikenal sebelumnya (penyakit eksotik) masuk ke suatu wilayah bebas.
Dalam arti sempit, tindakan pencegahan dapat berarti mencegah  terinfeksinya suatu individu terhadap suatu penyakit yang telah  ada pada wilayah tercemar.
Apabila tindakan pencegahan ini  melibatkan suatu populasi (ternak) yang besar maka tindakan tersebut sudah berarti tindakan pengendalian, yang tujuan utamanya menekan kejadian penyakit.
Bila tindakan yang dilakukan bertujuan untuk membebaskan suatu wilayah dari suatu agen penyakit, maka tindakan tersebut digolongkan dalam tindakan pemberantasan.

Sumber buku : Penyidikan Penyakit Hewan (Buku Pegangan)
Disusun oleh : Drh. Dewa Made Ngurah Dharma, M.Sc., Ph.D. dan Drh. Anak Agung Gde Putra, M.Sc., Ph.D., SH
Penerbit : CV. Bali Media Adhikarsa – Denpasar - 1997


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar